Berikut penjelasan mengenai berita “El Niño Picu Kekeringan di Beberapa Wilayah” yang terjadi pada Mei 2025:
Apa itu El Niño?
El Niño adalah fenomena cuaca global yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mengalami pemanasan di atas normal. Ini memengaruhi pola cuaca global, termasuk pengurangan curah hujan di wilayah tropis, seperti Indonesia.
Dampak El Niño di Indonesia (Mei 2025)
1. Curah Hujan Turun Drastis
- BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) melaporkan penurunan curah hujan di bawah normal di banyak wilayah, terutama di:
- Nusa Tenggara Timur (NTT)
- Jawa Timur bagian selatan
- Sulawesi Selatan bagian tengah
2. Krisis Air Bersih
- Kekeringan menyebabkan penurunan debit air sungai dan sumur warga, memicu kesulitan akses air bersih di beberapa desa, terutama di daerah kering seperti NTT dan sebagian Bali utara.
3. Ancaman Gagal Panen
- Petani padi dan jagung mengalami kesulitan karena sawah mengering.
- Lahan pertanian tadah hujan tidak mendapat pasokan air yang cukup.
- Pemerintah daerah di beberapa kabupaten menyatakan status siaga kekeringan.
4. Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Meningkat
- Di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat, sejumlah titik api mulai terdeteksi lebih awal dibandingkan tahun sebelumnya.
- Pemerintah mulai menerapkan teknologi modifikasi cuaca dan larangan pembukaan lahan dengan pembakaran.
Langkah Antisipasi Pemerintah
- Bantuan air bersih dan sumur bor darurat disiapkan oleh BNPB dan pemerintah daerah.
- Kementerian Pertanian mempercepat distribusi benih tahan kekeringan dan pupuk hemat air.
- Edukasi kepada petani untuk melakukan tanam lebih awal dan menggunakan sistem irigasi tetes.
Perkiraan Ke Depan
BMKG memperkirakan fenomena El Niño akan mulai melemah pada Agustus–September 2025, tetapi dampaknya bisa terasa hingga akhir tahun jika musim hujan datang terlambat.